Singkawang: Kota Seribu Kelenteng yang Jadi Simbol Toleransi Indonesia

singkawang

TL;DR

Singkawang adalah kota pesisir di Kalimantan Barat yang dihuni tiga etnis utama: Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Kota seluas 504 km² dengan sekitar 248 ribu penduduk ini dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng dan berulang kali dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia oleh Setara Institute. Festival Cap Go Meh Singkawang, dengan ratusan tatung yang melakukan ritual tolak bala, menjadi salah satu perayaan budaya terbesar di Asia Tenggara. Sejak November 2024, Bandara Singkawang sudah melayani penerbangan reguler dari Jakarta.

Di pesisir utara Kalimantan Barat, sekitar 145 km dari Pontianak, ada sebuah kota yang kelenteng dan masjidnya berdiri berseberangan tanpa pagar pemisah. Bukan sekadar metafora. Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berusia hampir 200 tahun memang berhadapan langsung dengan Masjid Raya Singkawang yang sudah berdiri sejak 1885, dan keduanya masih aktif digunakan hingga hari ini.

Singkawang adalah kota kecil yang namanya selalu muncul setiap Imlek, terutama saat perayaan Cap Go Meh. Tapi di balik kemeriahan festival tahunan itu, ada cerita yang lebih dalam: kota ini sudah ratusan tahun membuktikan bahwa keberagaman bukan cuma slogan.

Asal-Usul Nama Singkawang

Nama “Singkawang” punya dua akar bahasa yang berbeda tapi bermakna mirip. Dalam bahasa Dayak Salako, kata Sakawokng merujuk pada daerah rawa-rawa luas di pinggir pantai. Sementara itu, para imigran Tionghoa Hakka yang datang belakangan menyebut kawasan ini San Khew Jong (山口洋), yang artinya “gunung-mulut-laut”, menggambarkan kota yang terletak di kaki gunung, dekat laut, dengan sungai yang mengalir sampai ke muara.

Kebetulan atau bukan, kedua nama ini punya bunyi dan makna yang hampir sama. Menurut catatan di Wikipedia Kota Singkawang, hal ini menunjukkan bahwa interaksi antara masyarakat Dayak Salako dan Tionghoa Hakka di wilayah ini sudah terjalin sejak lama, terutama dalam hal bahasa dan budaya.

Sejarah Singkat: Dari Desa Transit Emas ke Kota Otonom

Singkawang awalnya adalah sebuah desa kecil di wilayah Kesultanan Sambas. Pada abad ke-18, Sultan Sambas mendatangkan pekerja dari Tiongkok untuk menambang emas di Monterado. Singkawang menjadi tempat transit, titik istirahat para penambang dan pedagang sebelum melanjutkan perjalanan ke pedalaman. Lama-kelamaan, banyak yang memilih menetap.

Pada 1891, kolonial Belanda mulai membuka jalur pelayaran pantai di kawasan ini. Pelabuhan dibangun, jalan darat yang menghubungkan Pemangkat, Singkawang, dan Bengkayang selesai pada 1912. Singkawang perlahan berkembang dari desa transit menjadi pusat perdagangan.

Status administratif kota ini berubah beberapa kali. Singkawang menjadi Kota Administratif pada 1981, sempat bergabung dengan Kabupaten Bengkayang pada 1999, lalu resmi menjadi kota otonom pada 21 Juni 2001 melalui UU Nomor 12 Tahun 2001. Saat ini kota ini terbagi menjadi lima kecamatan: Singkawang Barat, Timur, Selatan, Utara, dan Tengah.

Tiga Etnis, Satu Kota: Mengapa Singkawang Disebut Paling Toleran

Singkawang dihuni sekitar 247.920 jiwa (data 2024) dengan tiga kelompok etnis utama: Tionghoa (terutama sub-etnis Hakka dan Teochew), Dayak, dan Melayu. Ketiga kelompok ini sering disingkat “Tidayu” oleh warga setempat. Ada juga komunitas Jawa, Madura, dan etnis lainnya, sehingga total ada 17 paguyuban masyarakat yang aktif di kota ini.

Keberagaman ini bukan cuma angka di data demografi. Dalam praktiknya, saat perayaan Cap Go Meh berlangsung, yang jadi panitia bukan hanya warga Tionghoa, tapi juga warga dari berbagai suku dan agama. Hal yang sama terjadi sebaliknya: saat Idul Fitri atau Natal, warga lintas etnis ikut saling mengunjungi dan menjaga keamanan lingkungan.

Setara Institute, lembaga riset yang secara rutin menilai toleransi di 94 kota di Indonesia, berulang kali menempatkan Singkawang di peringkat teratas. Dalam Indeks Kota Toleran 2023, Singkawang meraih skor tertinggi: 6,5 dari 7. Penilaian ini didasarkan pada delapan indikator, termasuk regulasi pemerintah yang inklusif, minimnya peristiwa intoleransi, dan kepemimpinan lokal yang mendukung keberagaman.

Salah satu faktor yang sering disebut adalah sosok Wali Kota Tjhai Chui Mie, wanita keturunan Tionghoa pertama yang menjadi kepala daerah di Indonesia. Kepemimpinannya sejak 2017 dianggap memperkuat iklim inklusif yang memang sudah ada sejak lama di Singkawang.

Cap Go Meh dan Pawai Tatung: Festival Budaya Terbesar di Singkawang

Setiap tahun, pada hari ke-15 setelah Imlek, Singkawang berubah total. Jalanan dipenuhi lampion, aroma dupa menguar dari ratusan kelenteng (menurut data Kementerian Agama 2014, ada sekitar 704 kelenteng di kota ini), dan ribuan orang memadati rute pawai untuk menyaksikan satu hal yang tidak bisa ditemukan di kota lain dengan skala yang sama: Pawai Tatung.

Tatung adalah sosok yang dipercaya menjadi medium spiritual, dirasuki roh leluhur atau dewa selama ritual. Dalam bahasa Hakka, “ta” berarti pukul dan “tung” merujuk pada orangnya. Selama pawai, para tatung menampilkan aksi yang sulit dipercaya jika tidak dilihat langsung: berjalan di atas bilah pedang, menusukkan kawat melalui pipi, atau duduk di atas tandu berduri. Ritual ini bukan pertunjukan semata, melainkan bentuk tolak bala untuk menyucikan kota dari energi negatif.

Yang membuat Singkawang berbeda dari perayaan Cap Go Meh di kota lain: tatung di sini tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa, tapi juga dari suku Dayak. Perpaduan ini mencerminkan akulturasi budaya yang sudah berlangsung ratusan tahun. Pada Cap Go Meh 2026, 727 tatung ikut dalam pawai, dan Pemerintah Kota menargetkan satu juta kunjungan wisatawan. Sebagai perbandingan, tahun 2025 mencatat 702.056 kunjungan.

Kuliner Singkawang: Perpaduan Hakka, Teochew, dan Lokal

Singkawang adalah salah satu kota di Indonesia yang kulinernya paling kuat dipengaruhi masakan Tionghoa, khususnya tradisi Hakka dan Teochew. Bedanya dengan kuliner Tionghoa di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya: di sini, resep-resep turun-temurun masih dipertahankan dengan cara memasak yang lebih tradisional.

Choi pan (atau chai kwe) adalah ikon kuliner yang paling dikenal. Kulit tipis dari tepung beras membungkus isian bengkuang atau talas parut, ebi, dan bawang putih goreng. Dimakan hangat dengan saus cabai, choi pan tersedia di hampir setiap sudut kota, dari warung kaki lima sampai restoran. Rumah Marga Tjhia, bangunan bersejarah dari tahun 1901 yang juga berfungsi sebagai museum, bahkan menjual choi pan buatan sendiri.

Selain choi pan, beberapa kuliner khas yang layak dicoba:

  • Bubur gunting: cakwe yang dipotong pakai gunting, disajikan dalam kuah kacang hijau manis dan pandan. Nama uniknya memang berasal dari cara penyajiannya.
  • Mie kering Singkawang: mie tipis kecil dengan topping ayam, bakso ikan, irisan lumpia, dan telur dadar. Meskipun namanya “kering”, tetap disajikan dengan kuah kaldu.
  • Che hun tiaw: minuman dingin sejenis cendol khas Tionghoa, berisi kue bongko hijau, ketan hitam, agar-agar serut, dan kacang merah dalam kuah santan dan gula merah.
  • Rujak ebi: berbeda dari rujak di daerah lain karena ditaburi serutan ebi kering yang memberi rasa gurih khas.
  • Lempok durian: kudapan manis dari durian yang dimasak lama hingga kental, jadi oleh-oleh favorit dari Singkawang.

Untuk suasana kuliner malam yang paling ramai, datanglah ke kawasan yang dikenal sebagai “Pasar Hong Kong” di Jalan Setia Budi. Gerobak kaki lima dari berbagai etnis berjejer rapi, dan kota yang tenang di siang hari mendadak hidup begitu matahari terbenam.

Wisata Alam dan Budaya Selain Cap Go Meh

Singkawang bukan hanya soal festival. Dikelilingi Pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakkok di sisi timur, serta Laut Natuna di barat, kota ini punya potensi alam yang sering luput dari radar wisatawan.

Pantai Pasir Panjang adalah destinasi paling populer, dengan garis pantai sekitar 3 kilometer dan pasir putih yang cocok untuk menikmati matahari terbenam. Fasilitasnya sudah cukup lengkap: ada penginapan, kolam renang, tempat bermain anak, dan warung makan. Bagi yang mencari suasana lebih tenang, Pantai Batu Burung di Desa Sedau (sekitar 20 menit dari pusat kota) menawarkan hamparan batu granit dan suasana yang lebih sepi.

Gunung Poteng menarik bagi pendaki yang ingin melihat panorama kota dari ketinggian. Jalur trekking-nya cukup menantang, tapi pemandangan di puncak sebanding dengan usahanya. Sinka Island Park, yang terletak di kawasan Teluk Karang sekitar 8 km sebelum masuk kota dari arah Pontianak, menyajikan wisata pantai dan hiburan keluarga.

Untuk wisata budaya di luar musim festival, Rumah Marga Tjhia adalah tempat yang tepat. Dibangun pada 1901 oleh Tjhia Siu Si, rumah ini masih dihuni oleh keturunan langsung sang pendiri dan terbuka untuk umum. Di sini Anda bisa melihat langsung bagaimana kehidupan keluarga Tionghoa di Singkawang di awal abad ke-20.

Cara Menuju Singkawang

Akses ke Singkawang kini jauh lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu. Bandara Singkawang (kode SKJ) mulai melayani penerbangan komersial sejak akhir 2024, dengan dua maskapai yang melayani rute Jakarta-Singkawang: TransNusa dan Super Air Jet. Waktu tempuh udara dari Jakarta sekitar 2 jam.

Perlu dicatat bahwa bandara ini masih relatif baru dan fasilitasnya masih berkembang. Apron bandara sedang dalam proses perluasan (ditargetkan mulai 2026), dan rute tambahan ke Surabaya dan Yogyakarta masih dalam tahap komunikasi dengan maskapai. Jadi, opsi penerbangannya belum sebanyak bandara di kota besar.

Alternatif lainnya adalah terbang ke Bandara Supadio di Pontianak, lalu melanjutkan perjalanan darat sekitar 3-4 jam via jalan nasional. Jalur darat ini cukup nyaman dan melewati pemandangan perkebunan serta perbukitan khas Kalimantan Barat.

Tips Praktis untuk Wisatawan

Jika Anda berencana datang saat Cap Go Meh, persiapan perlu lebih matang. Hotel dan penginapan biasanya penuh jauh-jauh hari. Singkawang memiliki sekitar 45 hotel dengan total lebih dari 2.000 kamar, tapi saat festival semuanya terisi cepat. Pesan akomodasi minimal satu bulan sebelumnya.

Bawa uang tunai yang cukup. Meskipun ada ATM di kota, antrean bisa sangat panjang saat musim festival. Transportasi lokal paling praktis menggunakan ojek atau kendaraan sewaan, karena angkutan umum di Singkawang belum sepadat kota besar.

Di luar musim Cap Go Meh, Singkawang justru punya daya tarik tersendiri: suasananya tenang, harga makanan murah, dan Anda bisa menikmati kuliner serta kelenteng-kelenteng bersejarah tanpa berdesakan. Cuaca tropis basah berlaku sepanjang tahun dengan suhu rata-rata 22-30°C, dan hujan paling sering turun antara September hingga Januari.

Singkawang Hari Ini dan ke Depan

Singkawang sedang dalam momentum pertumbuhan. Pembukaan bandara komersial, pengembangan infrastruktur jalan, dan meningkatnya jumlah wisatawan setiap tahun menunjukkan bahwa kota ini mulai mendapat perhatian lebih luas. Cap Go Meh 2025 saja sudah menarik lebih dari 700 ribu pengunjung, naik dari 606 ribu pada 2023.

Tapi yang membuat Singkawang menarik bukan hanya angka-angka pariwisata. Kota ini membuktikan sesuatu yang lebih besar: bahwa tiga komunitas etnis dengan bahasa, agama, dan tradisi berbeda bisa hidup bersama bukan karena toleransi dipaksakan dari atas, tapi karena sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama ratusan tahun. Di tengah Indonesia yang kerap menghadapi isu intoleransi, Singkawang adalah bukti bahwa model kerukunan seperti ini bukan cuma teori.

Scroll to Top