
Jurnal pengeluaran kas adalah catatan akuntansi khusus untuk merekam semua transaksi yang membuat saldo kas berkurang, mulai dari pembelian barang tunai, pelunasan utang dagang, hingga pembayaran gaji karyawan. Tanpa catatan ini, arus kas perusahaan sulit dipantau dan laporan keuangan akhir periode rawan tidak akurat.
Berbeda dari jurnal umum yang mencatat semua jenis transaksi dalam satu buku, jurnal pengeluaran kas berfungsi seperti filter yang menyaring hanya satu jenis kejadian: uang keluar. Ini membuat proses rekonsiliasi kas jauh lebih cepat, terutama untuk perusahaan yang volumenya tinggi.
Baca juga: Apa Itu High Season
Apa Itu Jurnal Pengeluaran Kas?
Jurnal pengeluaran kas, atau disebut juga cash payment journal, adalah salah satu dari empat jurnal khusus yang umum digunakan dalam sistem akuntansi perusahaan dagang. Tiga lainnya adalah jurnal penerimaan kas, jurnal pembelian kredit, dan jurnal penjualan kredit.
Fungsi utamanya satu: mencatat setiap transaksi yang mengakibatkan kas keluar dari perusahaan secara tunai. Transaksi yang tidak melibatkan pembayaran langsung, seperti pembelian secara kredit, tidak masuk ke jurnal ini, melainkan ke jurnal pembelian.
Ibarat rekening koran di perbankan yang hanya menampilkan mutasi debit, jurnal pengeluaran kas menjadi rekam jejak resmi setiap rupiah yang meninggalkan kas perusahaan.
Transaksi Apa Saja yang Dicatat?
Tidak semua pengeluaran masuk ke jurnal ini. Yang dicatat adalah transaksi yang diselesaikan langsung dengan uang tunai atau cek pada saat itu juga. Berikut jenis transaksi yang paling sering muncul:
- Pembelian barang dagang secara tunai
- Pelunasan utang dagang kepada pemasok
- Pembayaran beban operasional seperti gaji, sewa, dan listrik
- Pembelian perlengkapan kantor secara tunai
- Pengisian kembali dana kas kecil (petty cash)
- Pembayaran prive atau pengambilan pribadi pemilik usaha
Transaksi non-tunai seperti retur pembelian atau penyesuaian akuntansi tidak termasuk di sini. Pastikan hanya transaksi dengan bukti pembayaran langsung yang dimasukkan.
Format dan Kolom Jurnal Pengeluaran Kas
Format standar jurnal pengeluaran kas terdiri dari beberapa kolom yang masing-masing punya fungsi spesifik. Untuk perusahaan dagang, kolom yang digunakan umumnya lebih lengkap dibanding usaha jasa karena ada akun pembelian dan potongan pembelian yang perlu dipisahkan.
| Kolom | Keterangan |
|---|---|
| Tanggal | Tanggal terjadinya transaksi pengeluaran kas |
| No. Bukti | Nomor faktur, kwitansi, atau bukti pembayaran |
| Keterangan | Nama penerima pembayaran atau uraian transaksi |
| Ref | Kode akun buku besar yang diposting |
| Utang Usaha (D) | Pelunasan utang dagang kepada pemasok |
| Pembelian (D) | Pembelian barang dagang tunai |
| Serba-serbi (D) | Beban lain-lain yang tidak punya kolom khusus |
| Kas (K) | Total kas yang dikeluarkan |
| Pot. Pembelian (K) | Diskon yang diterima saat melunasi utang |
Kolom serba-serbi dipakai untuk mencatat pengeluaran yang tidak rutin, misalnya biaya reparasi mesin atau pembelian aset kecil. Di kolom ini biasanya ditambahkan subkolom nama akun dan nomor akun agar posting ke buku besar tetap tepat.
Cara Membuat Jurnal Pengeluaran Kas Langkah demi Langkah
Proses pencatatan bisa dilakukan secara manual di buku khusus atau di lembar kerja (spreadsheet). Langkah-langkahnya berlaku sama untuk keduanya.
1. Siapkan Format Tabel
Buat tabel dengan kolom-kolom yang sudah disebutkan di atas. Untuk usaha jasa yang lebih sederhana, kolom utang usaha dan pembelian bisa digabungkan ke kolom serba-serbi saja. Untuk perusahaan dagang menengah ke atas, gunakan format lengkap agar rekapitulasi di akhir periode lebih mudah.
2. Kumpulkan Bukti Transaksi
Sumber data utama adalah dokumen fisik: kwitansi, faktur pembelian, slip transfer, atau potongan buku cek. Jangan mencatat tanpa bukti. Prinsip ini bukan sekadar kebiasaan baik, tapi standar pencatatan yang berlaku untuk memastikan setiap entri bisa diverifikasi saat audit.
3. Isi Kolom Tanggal dan No. Bukti
Masukkan tanggal persis saat transaksi terjadi, bukan tanggal dicatat. Lalu tuliskan nomor bukti sesuai dengan dokumen fisik yang dipegang. Urutan kronologis penting karena jurnal ini nantinya menjadi dasar rekapitulasi bulanan.
4. Isi Kolom Keterangan dan Akun yang Didebet
Di kolom keterangan, tuliskan nama pemasok atau pihak penerima pembayaran. Kemudian tentukan akun mana yang terpengaruh: jika melunasi utang dagang, isi kolom Utang Usaha; jika membeli barang tunai, isi kolom Pembelian; jika membayar beban lain, masukkan ke Serba-serbi beserta nama akunnya.
5. Isi Kolom Kas di Sisi Kredit
Kolom Kas di sisi kredit diisi dengan jumlah uang yang benar-benar keluar. Jika ada potongan pembelian, jumlah di kolom Kas lebih kecil dari kolom Utang Usaha, dan selisihnya masuk ke kolom Potongan Pembelian di sisi kredit. Ini yang sering bikin bingung pemula: total debet harus selalu sama dengan total kredit di setiap baris.
6. Rekapitulasi di Akhir Periode
Setelah semua transaksi dalam satu bulan masuk, jumlahkan setiap kolom. Kemudian posting total masing-masing kolom ke buku besar akun yang bersangkutan. Kolom Kas diposting ke akun Kas (sisi kredit), kolom Pembelian ke akun Pembelian (sisi debet), dan seterusnya. Ini yang dimaksud dengan prinsip posting jurnal ke buku besar.
Contoh Jurnal Pengeluaran Kas
Berikut contoh pencatatan jurnal pengeluaran kas untuk UD Maju Bersama selama minggu pertama Maret 2025:
- 1 Maret: Membeli barang dagang tunai dari PT Sentosa, Rp2.500.000 (No. Bukti: F-001)
- 3 Maret: Melunasi utang ke CV Harapan Rp3.000.000, dapat potongan 2% (No. Bukti: K-015)
- 5 Maret: Membayar gaji karyawan Rp4.200.000 (No. Bukti: G-003)
- 7 Maret: Membeli perlengkapan kantor tunai Rp350.000 (No. Bukti: F-002)
Pencatatan untuk tanggal 3 Maret perlu diperhatikan khusus: utang yang dilunasi Rp3.000.000, potongan 2% berarti Rp60.000, sehingga kas yang keluar hanya Rp2.940.000. Kolom Utang Usaha diisi Rp3.000.000 (debet), kolom Kas diisi Rp2.940.000 (kredit), dan kolom Potongan Pembelian diisi Rp60.000 (kredit). Total debet = total kredit = Rp3.000.000.
Transaksi 5 Maret, pembayaran gaji karyawan, masuk ke kolom Serba-serbi dengan nama akun Beban Gaji. Tidak ada kolom khusus untuk gaji karena ini bukan transaksi rutin yang berulang dengan frekuensi tinggi seperti pembelian barang. Di akhir bulan, total kolom Serba-serbi diposting ke masing-masing akun buku besar sesuai nama akun yang tercatat, bukan dijumlah jadi satu angka.
Di akhir periode, total semua kolom dijumlahkan. Misalnya total Kas (kredit) untuk minggu pertama Maret di contoh ini adalah Rp9.990.000 (Rp2.500.000 + Rp2.940.000 + Rp4.200.000 + Rp350.000). Angka ini yang diposting ke akun Kas di buku besar pada sisi kredit.
Perbedaan Jurnal Pengeluaran Kas dan Jurnal Umum
Pertanyaan yang sering muncul: kapan harus pakai jurnal pengeluaran kas, kapan cukup pakai jurnal umum?
Jurnal umum mencatat semua jenis transaksi dalam satu buku dengan format dua kolom (debet-kredit). Ini cocok untuk usaha kecil dengan volume transaksi rendah. Saat volume transaksi meningkat, jurnal umum menjadi tidak efisien karena setiap transaksi ditulis penuh termasuk semua akun yang terlibat.
Jurnal khusus, termasuk jurnal pengeluaran kas, memisahkan transaksi berdasarkan jenisnya. Hasilnya, setiap jenis transaksi punya format yang lebih ringkas dan proses posting ke buku besar cukup dilakukan satu kali di akhir periode, bukan per transaksi. Untuk perusahaan dagang dengan puluhan transaksi per hari, penghematan waktu ini signifikan.
Menurut kaidah akuntansi yang berlaku, perusahaan dagang skala menengah ke atas umumnya menggunakan keempat jurnal khusus sekaligus untuk efisiensi pembukuan.
Jurnal Pengeluaran Kas pada Perusahaan Jasa vs. Perusahaan Dagang
Struktur kolom jurnal pengeluaran kas sedikit berbeda tergantung jenis usaha. Di perusahaan jasa, tidak ada kolom khusus untuk pembelian barang dagang karena bisnis ini tidak menjual produk fisik. Kolom yang ada biasanya terdiri dari: tanggal, nomor bukti, keterangan, akun beban (serba-serbi), dan kas.
Di perusahaan dagang, ada dua kolom tambahan yang penting: Pembelian dan Utang Usaha. Keduanya muncul karena transaksi pembelian barang tunai dan pelunasan utang ke pemasok adalah kejadian yang sangat sering, sehingga layak punya kolom sendiri daripada digabung ke serba-serbi.
Untuk usaha manufaktur, ada kemungkinan tambahan kolom untuk pembelian bahan baku atau biaya produksi langsung. Intinya, format bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Yang tidak boleh diubah adalah prinsip dasarnya: setiap baris harus seimbang antara debet dan kredit, dan setiap transaksi harus punya bukti fisik.
Hubungan Jurnal Pengeluaran Kas dengan Kas Kecil
Kas kecil (petty cash) adalah pos terpisah yang dikelola untuk pengeluaran rutin bernilai kecil, seperti biaya fotokopi, ongkos parkir, atau konsumsi rapat. Dana ini tidak langsung dicatat per transaksi ke jurnal pengeluaran kas.
Yang dicatat ke jurnal pengeluaran kas hanya dua momen: pertama saat kas kecil diisi pertama kali, dan kedua saat kas kecil diisi ulang (reimbursement). Pada saat pengisian ulang, semua bukti pengeluaran kas kecil dikumpulkan, dijumlahkan, lalu dicatat sekaligus ke jurnal pengeluaran kas dengan rincian per akun beban yang digunakan.
Dua metode pengelolaan kas kecil yang umum dikenal adalah metode imprest (dana tetap) dan metode fluktuasi. Pada metode imprest, saldo kas kecil selalu dikembalikan ke jumlah awal setiap kali diisi ulang. Ini yang paling sering digunakan karena lebih mudah dikontrol, seperti mengisi ulang dompet sampai batas tertentu setiap minggu.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
Ada beberapa pola kesalahan yang kerap muncul dalam praktik, terutama bagi yang baru memulai pembukuan:
- Mencatat tanpa bukti fisik. Entri tanpa dokumen pendukung sulit diverifikasi dan rawan manipulasi.
- Memasukkan transaksi kredit ke jurnal ini. Pembelian secara kredit masuk ke jurnal pembelian, bukan jurnal pengeluaran kas.
- Lupa mencatat potongan pembelian. Akibatnya, saldo kas di buku besar tidak cocok dengan kas fisik.
- Menunda pencatatan. Semakin lama jeda antara transaksi dan pencatatan, semakin besar risiko dokumen hilang atau detail transaksi terlupa.
- Total kolom tidak seimbang. Sebelum posting ke buku besar, selalu periksa apakah jumlah semua kolom debet sama dengan jumlah semua kolom kredit.
Program studi akuntansi dari berbagai perguruan tinggi menekankan bahwa kesalahan pada jurnal pengeluaran kas tidak hanya memengaruhi laporan arus kas, tapi juga berdampak ke pencatatan kas kecil dan rekonsiliasi bank di akhir periode.
Manfaat Jurnal Pengeluaran Kas bagi Bisnis
Bagi pelaku usaha, jurnal ini bukan hanya kewajiban administratif. Manfaat praktisnya langsung terasa:
Kontrol pengeluaran lebih ketat. Ketika semua kas keluar tercatat dalam satu buku, manajemen bisa langsung melihat apakah ada pengeluaran di luar anggaran yang sudah ditetapkan.
Deteksi kesalahan dan kecurangan lebih cepat. Angka yang tidak cocok antara jurnal dan saldo fisik kas langsung terlihat saat rekapitulasi bulanan, bukan setelah tutup buku tahunan.
Laporan keuangan lebih mudah disusun. Data jurnal pengeluaran kas menjadi salah satu sumber utama untuk laporan arus kas dan laporan laba rugi. Dengan jurnal yang rapi, proses ini jauh lebih cepat.
Audit internal dan eksternal lebih lancar. Auditor membutuhkan jejak transaksi yang jelas. Jurnal pengeluaran kas yang lengkap dengan nomor bukti yang cocok dengan dokumen fisik adalah bukti pengendalian internal yang baik.
Apakah Perlu Perangkat Lunak Akuntansi?
Untuk usaha kecil dengan transaksi kurang dari 20 per hari, jurnal manual di spreadsheet sudah cukup efektif. Formatnya bisa dibuat sendiri menggunakan Google Sheets atau Microsoft Excel dengan kolom sesuai kebutuhan bisnis.
Saat volume transaksi meningkat, software akuntansi mulai layak dipertimbangkan. Kebanyakan aplikasi akuntansi yang tersedia di pasar Indonesia sudah menyediakan modul jurnal pengeluaran kas secara otomatis, sehingga pengguna tinggal memasukkan data transaksi dan sistem akan memposting ke buku besar secara otomatis.
Pilihan menggunakan perangkat lunak atau manual sepenuhnya tergantung pada skala dan kemampuan sumber daya bisnis. Yang paling penting adalah konsistensi: jurnal yang diisi setiap hari secara disiplin jauh lebih berguna daripada sistem canggih yang diisi seminggu sekali.
Setiap bisnis yang mengelola kas secara tunai butuh cara membuat jurnal pengeluaran kas yang benar sejak awal. Satu kesalahan format di awal bisa menciptakan ketidakcocokan yang sulit dilacak di kemudian hari. Konsep dasar jurnal pengeluaran kas sebagai bagian dari jurnal khusus perusahaan dagang sudah diajarkan sejak level SMA karena relevansinya yang langsung terasa di dunia usaha nyata. Mulai dari format sederhana, lengkapi kolom sesuai kebutuhan, dan lakukan rekapitulasi setiap bulan tanpa pengecualian. Di situlah manfaat jurnal ini terasa, bukan di teorinya.

